oleh

Naiknya Angka Kasus Covid 19 di Sulsel Karena Pemerintah Agresif Identifikasi Penderita, Ini Penjelasan Jubir

Kabartujuhsatu.com, Makassar – Provinsi Sulawesi Selatan mencatat rekor terbanyak penambahan jumlah k asus positif Covid-19 dalam 24 jam pada Jumat (19/6/2020).

Yakni 207 atau 211 kasus positif baru Covid-19 dalam sehari.

Angka ini menempatkan Sulsel terbanyak kasus baru positif Covid-19 di Indonesia mengalahkan semua provinsi padat penduduk di Pulau Jawa (DKI, Jatim, Jabar, Jateng, Yogyakarta, Banten).

Namun Pemprov Sulsel melalui Jubir Tim Gugus Covid-19 Sulsel dr Ichsan Mustari meminta warga Sulsel tak perlu panik dengan angka-angka ini.

Pasalnya, tingginya angka positif berarti pemerintah sedang bekerja keras mengidentifikasi penderita Covid-19 di provinsi ini.

Gubernur Sulsel Sudah Punya Strategi Jitu berantas Covid-19, tambah 104 Kasus Positif

Informasi terbaru terkait penanggulangan Covid-19 di Sulawesi Selatan terus diperbaharui Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan (Diskes Sulsel).

Informasi Covid-19, Jumat (19/6/2020) malam memperlihatkan, jumlah pasien positif naik dari 3.366 pasien menjadi 3.577 pasien. Artinya bertambah 211 pasien.

Angka tersebut berbeda dari data nasional yang dirilis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang hanya 207 pasien.

Angka tersebut menjadi penambahan tertinggi selama 92 hari pasien Covid-19 ditemukan di Sulsel, tepatnya 19 Maret lalu.

Dan angka 211 ini menjadi pertama kalinya tertinggi di Indonesia, mengalahkan DKI Jakarta dan Jawa Timur (Jatim) sekaligus.

Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Muhammad Ichsan Mustari mengatakan, peningkatan terjadi dikarenakan tim gugus tugas melakukan agresif testing.

“Saya kira ini bukan perlombaan. Angka naik yang penting terkontrol. Bgitupun provinsi lain. Kita bisa lihat ada provinsi yang jumlah penduduknya lebih besar namun pasien Covid kecil,” ujarnya.

“Saya sampaikan, ini bukan siapa tertinggi . Tidak seperti itu. Kenaikan ini kita mendeteksi pasien positif dan kita isolasi,” ujar Ketua IDI Sulsel itu.

Distribusi per kabupaten/kota dari 211 pasien Covid-19 didapatkan dari:

Makassar 132 pasien

Luwu Timur 24 pasien

Bulukumba 20 pasien

Gowa 16 pasien

Maros 10 pasien

Pangkep 4 pasien.

Sidrap 2 pasien

Takalar 1 pasien

Luwu 1 pasien dan

Enrekang 1 pasien

“Terbanyak salah satunya di Lutim. Saya ke sana memang terjadi peningkatan testing, mereka yang positif diisolasi mandiri, tempatnya dibuat khusus, tidak sama wisata covid, lokasinya terisolir, betul-betul memisahkan antara positif dan negatif,” ujarnya.

Bagaimana dengan di Makassar?

“Di Makassar kan sudah disampaikan, seperti apa penindakan dilakukan gugus tugas Makassar. Terkait pelaksaan protokol kesehatan tersebut, nanti detailnya tanyakan lagi ke jubir Makassar,” ujarnya.

Lalu sampai kapan trisula, testing (rapid test massif), tracing contact dan penguatan edukasi pada masyarakat dilakukan?

“Tentu kita lihat Rt (angka reproduksi Efektif). Kan 1,47 kemarin, belum merata di bawah 1. Nah kalau Rt menurun testing diturunkan,” ujarnya.

“Kalau tracing dilakukan terus. Edukasi sementara kita susun. Ada beberapa kita konsolidasikan ke kabupaten/kota. Utamanya kampaye massal hingga RT (Rukun Tetangga) dilibatkan untuk edukasi,” ujarnya.

Sementara pasien sembuh di Sulsel dilansir data Kemenkes RI, naik dari 1.126 pasien menjadi 1.169 pasien. Artinya naik 43 pasien. Untuk pasien meninggal stagnan di angka 123 pasien.

Strategi Pemkot Makassar Berantas Covid-19 :

Pemerintah Kota Makassar menyiapkan berbagai strategi untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Di antaranya memassifkan penyemprotan disinfektan massal di 15 kecamatan selama dua hari mulai 20-21 Juni.

Penjabat Wali Kota Makassar Yusran Jusuf memastikan, penyemprotan massal akan menjadi agenda rutin seluruh pemerintah kecamatan di Makassar dalam penanganan virus Corona.

“Penyemprotan massal di 15 kecamatan ini akan dilakukan setiap Sabtu Minggu selama sebulan di seluruh titik di Kota Makassar,” kata Yusran, Kamis (18/6/2020).

Rencananya, sekitar 3.000 personel yang akan terlibat dalam kegiatan itu, meliputi TNI, Polri, pemerintah kecamatan, Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan RT-RW.

“Jadi mulai dari jam 9 pagi kita akan melakukan penyemprotan dengan menggunakan mobil damkar. Kita juga siapkan untuk penyemprotan di lorong-lorong,” ujarnya di hadapan para camat dalam rapat koordinasi yang berlangsung di Posko Gugus Tugas Jl Nikel Raya, Makassar.

Selain itu, Yusran juga meminta seluruh pemerintah tingkat kecamatan dan kelurahan termasuk TNI-Polri untuk menerapkan sanksi bagi pelanggar Protokol Kesehatan dan Perwali 31.

“Kita akan kenakan paling tidak tiga sanksi, yakni sanksi berat, sedang, dan ringan, tergantung kondisi pelanggaran yang dilakukan,” ucap Yusran.

Pemberian sanksi akan disosialisasikan selama dua hari, 18-19 Juni. Sementara penerapannya 20 Juni.

“Kita tidak akan menyiram toko dan bahan makanan jualan orang tapi yang kita tindaki itu orangnya. Sanksinya itu kita akan tegur dulu semisal tidak pakai masker saat masuk mall, Inspektur Covid kita akan menyuruh pulang dan kalau masih bandel ada sanksi berat,” jelas Yusran.

Sanksi Berat Berujung Pidana

Juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Kota Makassar Ismail Hajiali menjelaskan, sanksi protokol kesehatan tercantum dalam Perwali Makassar.

Sanksi ringan bagi individu dan badan usaha pelanggar protokol kesehatan dapat berupa teguran. Adapun sanksi berat bisa berujung pidana dan pencabutan izin usaha.

“Sanksi sedang, bisa dilakukan penutupan paksa. Kalau berat, itu langsung dibubarkan jika orang per orang, dan dicabut izinnya jika tempat usaha,” papar Ismail.

Ismail menuturkan, Perwali Protokol Kesehatan memiliki sanksi hukum yang kuat jika berdasarkan Undang-undang Karantina Kesehatan.

Perwali Protokol kesehatan mulai berlaku 23 Mei lalu, namun belum dimaksimalkan.

Sumber : Tribun news

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed