oleh

Antisipasi Kekeringan, Penyuluh Pertanian dan Kabid Tapang Kab. Takalar Dampingi Petani Lakukan Percepatan Tanam Jagung

Kabartujuhsatu.com, Takalar (Sulsel) – Paparan Pandemi wabah Covid 19 belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Pemerintah telah melakukan segala upaya untuk menekan penyebarannya antara lain dengan menerbitkan larangan mudik yang berdampak pada penutupan sarana transportasi dan pembatasan-pembatasan lainnya, seperti bekerja, belajar, dan beribadah di rumah.

Menteri Pertanian  Syahrul Yasin Limpo yang akrab disapa SYL menyampaikan bahwa penyebaran virus corona yang masif di Indonesia berimbas negative pada kegiatan ekonomi. Di sektor konsumsi rumah tangga terjadi ancaman kehilangan pendapatan masyarakat karena tidak bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pengangguran dan kemiskinan meningkat dan kinerja pelaku usaha menurun dan terdampak virus sehingga tidak dapat melaksanakan usahanya, bahkan dihadapkan pada ancaman kebangkrutan.

“Kita dihadapkan pada masa yang penuh dengan tantangan. Pandemi virus corona telah memberikan efek domino dalam berbagai bidang, antara lain sosial, budaya, dan ekonomi, tapi sebagai insan Pertanian, kita harus tetap produktif, petani harus tetap bekerja menyiapkan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia,” ungkap SYL.

Sejalan dengan arahan Mentan, Kepala BPPSDM Pertanian, Prof Dedi Nursyamsi menegaskan bahwa masalah pangan adalah masalah yang sangat utama yang menentukan hidup matinya  suatu bangsa, di mana petani harus tetap semangat tanam, semangat olah dan semangat panen. Hal ini membuktikan pertanian tidak pernah berhenti ditengah wabah covid-19.

Bedasarkan arahan Mentan dan Kepala BPPSDMP, Penyuluh Pertanian bersama Kepala Bidang Tanaman Pangan bersama Penyuluh Pertanian Kabupaten Takalar, melakukan monitoring perbenihan jagung sekaligus memotivasi petani melakukan percepatan tanam pada anggota Kelompok Tani  Sukamaju, Kelurahan Sanrobone, Kec. Sanrobone, Kabupaten Takalar. Kamis (28/5/2020).

Menurut Kabid Tanaman Pangan (Tapang), Nurhayati, SP, semua anggota kelompok khusunya yang mendapat bantuan benih jagung dimotivasi agar mempercepat tanam untuk memanfaatkan ketersediaan air, selain itu untuk mengantisipasi kekeringan yang sudah marak dibicarakan.

“Kami dapat info bahwa Menurut BMKG, musim kemarau tahun ini akan menjadi musim kemarau terkering dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dimana diperkirakan sekitar 9,9 % daerah zona musim yang akan memasuki puncak musim kemarau pada bulan Juli, Sementara itu, sekitar 64,9 %, memasuki puncak musim kemarau pada bulan Agustus dan 18,7%, baru memasuki puncak musim kemarau pada bulan September. Oleh karenanya kami berharap bisa panen sebelum datangnya musim kemarau,” ungkap Nurhayati.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Parahadele, SP menyampaikan bahwa selama ini petani terus didampingi dan dimotivasi melakukan percepatan tanam untuk semua jenis komoditas. Pada lahan yang memiliki keterbatasan sumber air, umumnya petani dimotivasi menanam palawija, sedangkan yang memiliki sumber air yang memadai, petani diharapkan tetap menanam padi.

“Kami berharap petani di kelompok Tani Sukamaju bisa panen sebelum datangnya musim kemarau  dan hasilnya bisa maksimal dinikmati oleh petani,” ungkap Parahadele. (BBPP-BK).

Penulis : Jamaluddin Al Afgani

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed