oleh

Jeritan Jurnalis Ditengah Maraknya Covid19

Kabartujuhsatu.com – Pontianak – Karya tulis seorang jurnalis tanpa nama, melihat dirinya di sekelilingnya dalam menghadapi antara Covid19  atau mati kelaparan, dalam kenyataan hari ini semua kebutuhan pokok naik, listrik naik, pulsa telfon, dan internet naik walaupun lelet, BBM premium di SPBU SPBU menghilang, yang ada hanya Pertalit, Pertamax, yang mencekik leher, bahkan harga harga kebutuhan yang lain selangit “

Kami, terutamanya para  Wartawan, warga Bapak yang penghasilannya harian…??

Yang kalau ”TIDAK KERJA TIDAK MAKAN”…?
Mungkin Bapak Bapak yang mendapatkan fasilitas dan gaji dari Negara tidak akan menjadi masalah, yang kebutuhan dapur, sumur dan kasurnya di tanggung negara.
Yang kalau panik sedikit saja langsung memborong kebutuhan sembako setinggi bukit. Lhaaa kami….?? Yang terkadang untuk beli sayur saja terkadang ngutang dulu pada abang sayur yang juga kami tahu terkadang modalnya dari rentenir keliling.

Juga dengan anak anak kami yang Bapak suruh belajar dengan metode jarak jauh atau via online yang butuh alat komunikasi hp smart ataupun laptop untuk menunjang semua itu.

Bagaimana dengan saudara kami yang lain yang anaknya mungkin saja 3, 4 atau 5 yang bersekolah yang harus mempunyai hp ataupun laptop untuk menunjang proses pembelajaran tersebut.

Yang hanya punya hp jadul yang terkadang pulsanya menunggu masa tenggang baru di beli. Mungkin bagi Bapak Bapaknya yang mampu untuk menyediakan semua itu tidak menjadi masalah. Bagaimana dengan kami pak…??? yang jangan kan untuk beli hp dan laptop, beli pulsa dan paketnya saja terkadang kami tak mampu. Apakah hal demikian Bapak juga pikirkan…??

Bapak kami yang terhormat… kalau hanya sekedar memberi himbauan tampa ada solusi atas kondisi ini, itu sama saja Bapak menyuruh kami menghindar dari mulut macan tapi menghadapkan kami pada mulut buaya.
Kepentingan Bapak adalah bagaimana mata rantai virus ini putus dan tidak berkembang… tapi masalah kami bagaimana kami harus mencari sesuap nasi, pagi dan petang untuk keluarga kami yang kalau tak keluar rumah tak makan seperti profesi Saudara Saudara kami yang kami sebutkan tadi.

Kami ingin sekali bekerja di rumah seperti yang Bapak sarankan… tapi tolong tunjuki kami… para tukang ojek, penjual gorengan keliling, buruh bangunan dll caranya bekerja dari rumah agar kami dapat mematuhi himbauan Bapak itu.. tunjuki kami Paaak…!! Karena kredit kami, cicilan panci dan motor kami tak pernah mendengarkan himbauan Bapak agar berhenti menagih sejenak…!! Jangan hanya sekedar memberi himbauan.

Begitu juga tempat ibadah kami terutamanya Mesjid, Bapak tutup atau batasi kami berjamaah. Tapi mall dan pusat pusat perbelanjaan lainnya Bapak biarkan buka yang potensi penyebaran virusnya lebih besar dari tempat ibadah kami dan di datangi berbagai lapisan masyarakat.

Pak…. kami tidak menuntut banyak… tapi tolong kami beri solusi atas semua ini…. kalau hanya sekadar himbauan tampa solusi…. kami juga punya jalan sendiri…. toh ujung dari semua bencana dan wabah ini adalah mati… dan tampa itu pun kematian itu pasti, sekarang, esok atau nanti………!!! ( Nasib Wartawan  Yang Tanpa Gaji)

Sementara wartawan taat pemerintah untuk tetap di rumah, namun kebutuhan sehari hari tetap harus terpenuhi, semoga ada perhatian dari Pemerintah, khususnya yang ada di
kota Pontianak dan sekitarnya.
(*)

Sumber : Group WA Jurnalis Bersatu

Tentang Penulis: Share ya kabartujuhsatu

Gambar Gravatar
Menyajikan informasi berita yang akurat dan terpercaya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *